Showing posts with label nyampah. Show all posts
Showing posts with label nyampah. Show all posts

Tuesday, September 7, 2010

Aku berjalan menunduk

Masa-masa sulit memang seperti tak ada habisnya. Seperti bapakku yang pusing, aku juga. Ya Allah, harus kami ikhtiar bagaimana lagi? Ya, aku mengakui, Engkau Maha Kuasa, maka tolonglah kami..

Banyak masalah menghimpit. Oh bulan puasa ini begitu dahsyat. Aku akui, ibadahku minim. Aku terlalu sibuk bergelut dg bayangan akan masa depan. Hah, seandainya aku dapat berbuat banyak..seandainya mbakku dapat sehat kembali. Segar bugar dan bahagia, andai..

Sedih, ketika aku melihatnya. Tak tega, ingin semuanya berakhir. Kadang karena tak tahan, aku berdoa. 'Gusti Allah, kalau memang dia harus pergi, maka lakukanlah dengan halus. Tapi kalau dia memang harus kembali sehat, maka berilah ia kesempatan. Cuma itu doaku.

Ya, aku tak tahu lagi. Aku merasa ini saat-saat terlabil dalam hidupku. Aku ingin segera bekerja. Ingin hidup dengan tenang. Ingin berguna untuk semua orang. Hanya itu.

Hehe, coklat panasku harus sabar mendampingi hari-hariku. Aku tumpahi ia dengan keluhan dan curahan hati. Mungkin hanya dia yang bisa mengerti. Walau tak hidup, tapi aku ingin berterima kasih karena telah mendampingi perjalananku. Bagaimanapun, pada akhirnya ini adalah pelajaran,,dan aku akan bersyukur ketika hatiku bisa ikhlas menjalani ini semua.

Bersabarlah...

Friday, September 3, 2010

suatu siang

Hampir siang di hari minggu ketika aku dengan tergesa-gesa memasukkan baju-bajuku ke dalam tas, memakai jaket ternyamanku, dan membuang sampah yang segudang. Haha aku sudah mirip orang kesurupan karena harus berkejaran dengan waktu, ketakutan kalau-kalau kesorean sampai rumah di tuban.

Sip! Semua beres. Aku pun segera mengayuh sepeda hijau yang aku pinjam sore kemarin. Tujuan utamaku adalah menuju karangwuni. Hoahaha walaupun boulevard depan grahasaba ugm terlihat datar tanpa gelombang, tapi pada kenyataannya jalan ini menanjak. Kau perlu mencoba mengayuh sepeda sepanjang jalan ini sekitar jam 10, maka aku berani bertaruh, harapan berbuka puasa di sore hari akan menguap, terganti oleh nikmatnya membatalkan puasa karena saking capeknya. Paling tidak, aku telah mempraktekkannya, hahaha (tertawa puas). Ehem, aku akan cerita nanti.

Siang itu, pundakku serasa membawa beban seribu ton remote control. Hadeeh, beratnya...ditambah satu tas penuh oleh2 di keranjang sepeda. Aku mengayuh, lagi dan lagi. Tentu saja aku mewarnainya dengan menuntun sepeda menggemaskan itu. Boulevard memang bagaikan jembatan sirathal mustaqim, namun karena aku cukup tegar, maka jalan itu tertaklukkan pula. Sekarang menuju fisipol.

Sampai fisip, terlihat portal sana-sini. Walah, aku sempat kebingungan mau lewat mana. Tapi ada anak2 kecil sedang bermain sepeda di sekitar sana. 'lewat sini mbak!' kata mereka. Aku pun mengikuti saran mereka. Aku telusuri jalan yg sama dg mereka namun ternyata terhalang oleh gundukan semen yang cukup tinggi. Tahu aku bakal kesulitan, merekapun langsung berkata 'kita bantuin mbak'. Iyap! Atas bantuan mereka, Sepedakupun terbebas dari hambatan. Aku melanjutkan perjalanan dengan hati ringan seperti dikawal oleh teman2ku yang selalu siap menolong. Hmm kadang aku merasa, chemistry itu mungkin saja sudah tertanam di hatiku dan semua anak. Sehingga rasa sungkan dan ketidaktahuan, menjadi rasa saling memahami.

Namun seringan apapun hatiku, nyatanya panasnya jogja dan jauhnya jarak membuatku ngos2an tiada tara. Sampai warnet, kakiku sudah gemetaran tak karuan. Duduk sebentar, aku memikirkan sesuatu tentang masa depanku. Ting! Sudah aku putuskan, maka sebelum masuk ke dalam bilik warnet, aku membuka kulkas kecil, mengamati apa yg ada di dalamnya, dan menyambar segelas aqua. Sebelum benar2 masuk, aku mengacungkan aqua itu pada si penjaga warnet sambil bilang 'aqua ya mas', kataku santai. Dia terbengong-bengong. Aku cuek saja. Ah sudah aku duga, dia pasti heran aku gak puasa, mana pake jilbab lagi, hahaha.

Tak berapa lama, aku selesai ngenet. 'mas, semua berapa? Sama aqua satu ya..' kataku tanpa dosa. Dia senyum2. Ah sudah aku tebak, sebentar lagi pasti tanya 'gak puasa mbak?', atau 'seger mbak?'. Tapi bukan, dia melanjutkan senyumnya dengan pukulan telak:'aquanya gak dijual mbak'. Kali ini aku yang bengong. 'yang dijual cuma yg dibotol2, kalo aquanya gak tahu punya siapa'

ngek ngok.. Selamat mas, anda membuat saya terbengong2 selama beberapa detik. Sumpah! Dia seperti baru menang tinju dg pukulan KO tanpa perlawanan dariku. Aku pikir, ini situasi yg sangat aneh, haha. Aku tak bisa menyimpulkannya, campur aduk rasanya. Hah dodol sekali aku ini..

Monday, August 23, 2010

Rencana besar

Yeah, kamar mandi memang selalu menyumbang inspirasi, terutama ketika nongkrong di atas kloset. Ehm, agaknya bahasaku terlalu jorok.

Anyway, intinya aku baru saja berpikir tentang sesuatu. Sesuatu itu menggugah, agaknya akan menjadi tantangan baru bagiku. Tadi pagi ketika mengurus ijazah, aku bertemu dengan seorang teman yang kemarin juga ikut seleksi indonesia mengajar untuk daerah yogya dan sekitarnya. Sebenarnya bukan teman juga sih, tapi dia adalah temannya temanku, namanya wildan. Waktu ketemu, kami sama-sama terkejut lalu dia bertanya 'eh, gimana kamu?'. Kalau lebih lengkap, pertanyaannya akan berbunyi begini 'gimana kamu keterima indonesia mengajar gak?'

Aku menjawab dengan muka manyun dibuat-buat 'nggak keterima, nggak dihubungin kan berarti gak keterima. Lah kamu?'

Hah, tak aku pungkiri kalau sebenarnya aku mengharapkan jawaban yang sama, hehe jahat sekali aku. Ragu-ragu dijawabnya 'Alhamdulillah aku dihubungi, nunggu med ceck' katanya agak sungkan.

'SELAMAT!' suaraku yang menggelegar agaknya mengagetkan semua orang di dekanat. Tapi jujur, di satu sisi aku ikut senang temanku lolos, tapi di sisi lain aku merasa kecewa. Aku masih merasa pantas untuk mendapat kesempatan itu. Andai ada alat pengukur niat, maka nilaiku mungkin saja akan tinggi. Jauh lebih tinggi dari sederet tes yang IM lakukan terhadap kami (self presentation, problem solving test, focus group discussion, psyco test, simulasi mengajar, dan deep interview).

Karena mulai merasa malu-maluin, maka aku pun segera kabur. Tak lama, aku bertemu temanku yang juga teman wildan. Aku menggugat 'wildan lolos IM het, sedangkan aku tidak..'. Dia menimpali 'aku lihat-lihat ya, Yang sangat ditekankan oleh IM itu kemanpuan adaptasi calon yang dipilihnya. Wildan itu dulu KKN-nya di Sorong, Papua. Jadi udah terbukti kemampuan adaptasinya. Plus, dia itu aktif banget anaknya, banyak bergaul. Jadi kemampuan bersosialnya juga oke. Jadi mungkin itu yang jadi nilai plus-nya'.

Oh ya? Setelah aku pikir, benar juga. Aku belum punya pengalaman ekstrem tinggal di wilayah yang ekstrem pula. Terbersitlah ide gila barusan. KALAU BEGITU, AKU INGIN TINGGAL BEBERAPA BULAN DI DAERAH YANG MENEMPAKU, AKU AKAN MENGAJAR DI SANA, MENULIS DAN MERESAPI ALAM DAN MANUSIA. AKU AKAN MEMBUKTIKAN BAHWA AKU BISA. Tanpa embel-embel IM, aku akan maju sendiri, karena ini bukan apa yang akan aku dapatkan setelah setahun dg IM, tetapi ini tentang passion-ku. Ini tentang pengabdian dan tantangan. Tapi satu pertanyaan, bisakah aku tanpa uang? Hahaha

Sunday, August 22, 2010

Aku baik-baik saja

Hari-hari ini tidak mudah terlewati olehku. Hah kadang aku merasa, aku tak begitu beruntung dalam memperoleh pekerjaan. Kemarin dulu aku gagal dengan nestle, lalu IOM, dan yang terakhir adalah Indonesia Mengajar. Aku berpikir, apa yang salah denganku? Apakah aku memang bodoh? Atau cuma tidak beruntung? Baru aku temukan, ternyata aku tak hanya tidak begitu beruntung dengan soal-soal asmara, tetapi juga kerja. Ups harusnya aku tak berprasangka begitu.

Yah, hal yang paling pedih bagiku adalah tidak lolos Indonesia Mengajar. Ini adalah pekerjaan yang aku banget. Betapa besar keinginanku untuk dapat bergabung di dalamnya. Malam ketika aku mendengar ketidaklolosanku, aku sedang menonton 'he's just not into you' yang telah aku putar berulang kali dan selalu sukses membuatku menangis (sumpah lebay). Ditambah ada kabar itu, maka seperti disembur air perasan bawang merah, mataku tak bisa menahan kucuran air mata (lebay meneh). Tapi herannya, aku cuma menghabiskan 3 potongan tisu, jauh lebih sedikit dibanding ketika aku patah hati dulu. oh wow, that's great hah! Dan entah mengapa, malam itu aku memutuskan untuk mengikhlaskannya dan tidur dengan nyenyak. Jauh berbeda ketika patah hati, butuh waktu lama untuk menerima kenyataan. Kenapa aku begitu cepat ikhlas?

Satu, aku yakin semangatku adalah mengabdi, berinteraksi, dan menemukan inspirasi. Dan sebenarnya itu bisa aku lakukan di manapun. Aku dapat mencari pekerjaan yang punya jiwa sama. Toh aku masih punya cemara, masih bisa memainkan angklung, dan orang tuaku tak keberatan aku tetap tinggal di jogja sembari mencari kerja.

Dua, aku sudah terbiasa tertolak. Apalagi pengalaman yang terakhir kemarin. Ada yang jauh lebih sakit dan tanpa harapan. Jadi kehilangan IM membuatku lebih realistis. Bahwa apa yang tidak dapat kau raih, memang harus kau ikhlaskan, karena begitulah kenyataannya! Alhamdulillah, terkadang aku bangga pada diriku sendiri atas kuatnya hatiku saat ini.

Tak ada alasan ketiga kawan. I just wanna say, kadang yang paling kita inginkan, terlepas dari tangan kita, dan kecewa pasti akan datang. Yang terpenting bukanlah apa yang kau rasakan karenanya, tapi bagaimana mempersiapkan hari-hari selanjutnya.

Aku tak tahu langkah kakiku membawa, pengangguran membuatku merasa jadi orang tak berguna,
semoga aku akan cepat memperoleh pekerjaan yang aku inginkan ya,,,amin

Thursday, August 19, 2010

My graduation (part 2)

Lanjut ngomongin wisudaan yang, alamak, ribet tapi dapat tertangani dengan rebes. Kembali lagi pada pertanyaan kenada aku senang lulus. Ketiga, aku menemukan jawabannya tadi malam ketika keluar dengan teman. Biasalah cewek. Lihat-lihat sepatu (kerja), pakaian kerja dll. Semua mahal-mahal bo' (ya iya lah). Lalu aku pun bergumam, 'ini semakin membulatkan tekadku untuk bekerja, biar bisa beli-beli yang aku suka dan memberi tanpa banyak berhitung', kataku mantap. Dia pun menyahut, 'ya kamu pasti bisa nung mencapai yang kamu inginkan.' hohoho memang simple alasan ini, tapi bermakna dalam bagiku. Aku ingin hidup untuk memberi dan menerima yang memang pantas untuk aku terima. Aku ingin hidup dengan kerja kerasku sendiri. Dan menerima buahnya setelah melakukan kewajibanku. Pun ketika memberi, aku ingin melakukannya karena aku suka dan itu adalah hasil jerih payahku sendiri. Sungguh, rasanya berbeda.

Keempat, aku ingin menggapai passionku. Aku ingin pekerjaanku adalah passionku. Rasanya akan sulit bagiku bekerja pada suatu bidang yang tidak cocok denganku dan mengorbankan diriku di dalamnya. Ya meskipun aku suka tantangan, tapi aku juga akan tetap selektif memilih tantangan itu. Satu yang aku inginkan adalah bekerja dengan orang banyak -terutama bidang sosial, dan pekerjaan itu terus mendukungku untuk menulis. Itu yang paling aku inginkan. Masalah uang, aku yakin, rizki itu akan mengiringi kalau aku dapat benar2 nyemplung di duniaku. Yaa sebut saja konsisten dan profesional dalam bidang yang aku geluti. Oleh karenanya, aku selalu berangan-angan untuk menjadi pekerja yang mobile, aktif menulis, bertemu banyak orang, dan selalu eksplor kemampuanku dimanapun berada.

Mmm apalagi ya..dari semua itu, pada intinya aku ingin membahagiakan dan membuat bangga orangtuaku, saudara-saudaraku, sahabat2 dan teman, dan semua orang. Karena hidup ini gak ada apa-apanya tanpa berbuat sesuatu untuk orang lain.

Wednesday, August 18, 2010

Graduation day




Hore! Hari ini aku wisuda. Tak ada kata yang layak untuk mendeskripsikan rasaku selain syukur. Ya, ketika telah tiba saat ini, aku hanya merasa bahwa diriku sangat beruntung. Aku hanya bisa berucap syukur dan terimakasih kepada Allah dan orangtuaku.

Kata bapakku, ini adalah step kedua yang berhasil aku lewati, akupun tak begitu jelas apa step pertamanya. Aku yakin, step selanjutnya yang lebih rumit, aku harus dapat kerja.

Aku senang lulus karena beberapa alasan. Pertama, dg lulus, aku akan cepat cari kerja, hidup mandiri dan tidak lagi minta pada orang tua. Syukur-syukur aku bisa membalas budi kepada mereka. Hidupku akan aku jalani dengan polaku sendiri. Dan aku akan punya porsi yang lebih besar untuk bertanggungjawab terhadap diriku sendiri. Bukankah itu hidup yang sungguh exited ketika aku adalah milikku sendiri. Aku dapat berperan banyak untuk pekerjaanku dan lingkunganku. Hidup dimulah ketika kau diwisuda nak..

Kedua, dengan lulus, aku akan menyandang predikat baru. Apakah itu mahasiswi s2,karyawan di sebuah perusahaan, pengangguran, atau nikah,hahaha. Akan ada hidup baru, pelajaran baru, teman baru, dan tantangan-tantangan baru yang menunggu untuk ditaklukkan. It will be wild journey ketika idealisme bertarung dengan kerasnya zaman. Bagaimanapun, aku tak sabar menanti tantangan yang akan muncul setelah wisuda. Prinsipku, aku muda, ketika aku masih bisa bertahan dg idealismeku, maka aku akan mencoba memperjuangkannya atau paling tidak, berkompromi dg nya.

Mungkin bersambung..

Tuesday, August 17, 2010

mengaku untuk lega

Horey! inilah enaknya nulis di blog, bisa ramai sendiri, hahaha

Tapi sayangnya suasana hatiku lagi gak begitu ramai. Kalau seperti ini, biasanya aku mendendangkan ini: 'ilahilastu lil firdausi ahla,,wa la aqwa 'alannaril jakhimi..fahablitaubatan waghfir dzunubi,fainnakagho firudzambil 'adzimi..', yang kira-kira artinya: Ya Allah,sesungguhnya aku tidak pantas masuk surgaMu, namun aku juga tidak sanggup ada di nerakaMu,maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku,sesungguhnya Engkau pengampun dosa-dosa besar'..

Ya,aku sering sekali melagukannya. Ketika habis sholat, sedang berjalan sendirian, dan ketika hatiku tak tenang. Hah serasa angin segar, doa itu mengisi paru-paru yang sempit. Seakan pahlawan bertopeng, doa itu membuatku ikut tertawa layaknya sinchan. Aku tak tahu, tapi aku seperti ada di titik dimana aku harus menyerah, mengakui sebenar-benarnya bahwa aku tak pantas sombong. Bahwa Allah yang Maha Kuasa atas diriku. Lalu dengan apa adanya aku mengaku bahwa aku tak ada apa-apanya. Bahwa tak ada yang dapat menguatkanku selain Dia. Itulah esensi iman terdalamku saat ini.

Kadang aku mengeluh padaNya,ya tentu saja. Aku banyak mengeluh tentang: kenapa susah sekali untuk menjadi orang baik. Mengapa sulit sekali memiliki hati yang jernih. Oh aku cuma ingin bahagia, apa salahku.

Kadang aku merasa kalau banyak yang aku raih. Prestasi, kecukupan materi, teman-teman yang baik, kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, kesehatan, dan banyak hal lain yg tak terhitung. Tapi tahukah bahwa akhir-akhir ini aku selalu merasa gagal dalam hal asmara.hahaha.tertawalah karena ini memang lucu. Sebenarnya aku juga ingin tertawa.

Ternyata sulit sekali menemukan orang yang tepat. Wahahaha, aku sudah kayak sayembara cari pasangan aja ini. Tapi benar! Ketika kau sudah merasa tercukupi dalam berbagai hal dan gagal dalam satu hal saja, maka rasanya begitu penasaran. Kenapa aku tidak begitu beruntung dalam hal itu? Hahaha maka itu ada yang bilang kalau gak ada hidup yang sempurna. Aku percaya itu. Gak sempurna agar seseorang gak sombong. Agar ia sekali-kali mengaku kalau ia memang butuh Yang Maha Pemberi, Allah SWT.

Monday, April 26, 2010

Tentang Pernikahan

Apa yang kau rasakan ketika hari pernikahan sudah terlampau dekat denganmu? Deg-degan? Atau mungkin merasa ragu? Suatu hari aku bertanya pada seorang calon pengantin tentang bagaimana perasaannya menjelang hari H pernikahan. Lalu dia menjawab “biasa saja”. Tapi aku tak pernah percaya. Mungkin hari pernikahan itu tak begitu patut dicemaskan, tapi hari-hari setelahnya mungkin akan lebih “menantang” untuk dilewati. Rupanya dia sadar akan hal itu dan muncullah isu yang selama ini tak terlalu disadarinya. Ehm isu sensitive itu adalah: hubungan yang (sering) tidak harmonis antara menantu dengan ibu/ayah mertua. Tak hanya itu, yang lebih umum lagi adalah ketidakcocokan antara wanita/laki-laki yang berumah tangga dengan saudara kandung atau saudara ipar si pasangan.

Hahahaha aku sudah macam konsultan rumah tangga saja ya…

Sebab konflik atau ketidakcocokan pun macam-macam. Bisa karena hal yang “lebih” atau “kurang”. Maksudnya begini. Sebut saja minah, dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan suami bernama Supri. Supri memiliki saudara bernama Paimin. Sedangkan Paimin memiliki istri bernama Tini. Hahahaha aku tak bisa menyebut status mereka satu sama lain. Nah pengalaman yang sering terjadi adalah secara alamiah Minah (pasti) akan bermusuhan/tidak cocok dengan Tini. Ini teori-ku yang paling mutakhir, boleh kau buktikan, hahaha. Ketidakcocokan itu dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain; Minah yang lebih kaya dibanding Tini, atau Minah yang kurang memberi pada keluarga Tini dll. Perasaan iri adalah hal yang paling sering terjadi.

Aku tak bermaksud menghalalkan ini lo, tapi aku berusaha untuk memberitahu pola yang selama ini aku amati. Kalaupun ada studi kasus (halah bahasanya) yang tidak sesuai teori, maka telah terjadi anomali atau perkecualian yang patut dicari tahu.
Aku tak akan sok menjadi bijaksana, tapi seperti biasa, aku akan menentukan sikap agar semua menjadi lebih tertebak. Maksudnya begini, ketika nanti aku telah berumah tangga dan (amit2 jabang bayi) misal mengalami pola seperti tadi, aku akan berusaha agar nasibku tak berakhir seperti tokoh protaginis maupun antagonis di sinetron-sinetron Indonesia, yaitu Sang protagonist yang selalu mengalah dan menangisi nasibnya. Dan antagonis yang selalu melebarkan matanya dan menghabiskan harinya untuk menyusun rencana jahat. Hidup ini bukanlah macam itu kawan, aku tak mau jadi keduanya…

Aku ingin membuat itu lebih simple, bahwa ketika aku telah tahu pola umumnya, yaitu yang satu sering menggosipkan yang lain, maka aku tidak akan menyerah dalam keadaan seperti itu. Aku akan berhati-hati agar tak tersulut emosi dan perasaan benci. Aku tak tahu apakah aku akan bisa sekuat itu, tapi aku yakin, keadaan sesungguhnya tak akan sesulit yang dibayangkan, karena sebenarnya pola dapat mengendalikan keadaan menjadi lebih tertebak. Sehingga ketika aku telah dapat meraba-raba apa yang mungkin terjadi, maka aku akan bersiap diri agar hidupku tak selalu diliputi rasa benci.
Hal natural/alami yang biasa terjadi yang membuat sakit, tak akan semudah itu membuat sakit kalau kita belajar dari pola dan berusaha beradaptasi dengannya…aku percaya itu!

Wednesday, April 7, 2010

Antara Hotel Berbintang dan Code

Selasa, 06 April 2010

Hari ini serasa aneh untukku. Pagi sampai sore, aku ada di “seminar” dengan jamuan mengenyangkan, sedangkan sore selama 1 ½ jam aku berada di sebuah balai di kampung Code dengan anak-anak yang kurang beruntung. Rasanya ingin tertawa karena hidupku begitu kaya. Kaya akan pengalaman yang membuatku banyak berpikir…

Baiklah, sebelum membaca ini, tariklah napas dalam-dalam, lalu tertawakan kalau kau menemukan hal yang lucu..

Kenapa aku menulis seminar dengan tanda petik? Hahaha aku adalah salah satu mahasiswi HI yang rajin sekali mengikuti seminar. Sudah lebih dari delapan kali sepertinya (sejak semester 1). Tak bermaksud menyombong kawan, karena sekarang aku merasa tak bangga sama sekali. Dulu ketika masih awal-awal kuliah, aku merasa menjadi “orang penting” ketika mengikuti seminar. Mencatat dan mendengarkan serius adalah hal yang aku lakukan selama seminar berlangsung. Tapi itu dulu. Sekarang aku akui, semangat itu semakin surut dan orientasiku mengikuti seminar pun berubah. Yah ilmu dari seminar itu tetap aku anggap penting, namun “art” ketika berseminar ternyata lebih menjadi concernku. Apa yang aku maksud dengan art? Hmm aku akan menceritakannya untukmu.



Aku selalu merumuskan art ketika mengikuti seminar Deplu (sekarang berubah jadi Kemenlu) dengan beberapa poin: satu, diadakan di hotel berbintang, atau di gedung kampus yang bagus. Dua, dapat dipastikan ada jamuan makan dan coffe break. Makanan dan kue-kue yang dihidangkan pasti membuat kolesterol dan lemakmu naik dengan kecepatan roket (lebayyy). Ini adalah semacam perbaikan gizi bagi anak kos-kosan sepertiku. Pernah suatu kali aku ikut makan di suatu seminar padahal aku tak ikut, yaaaa cuma numpang makan saja, hahaha (kalau tak salah, itu di ruang seminar fisipol). Pernah juga aku membawa pulang kue dari seminar dan aku makan bersama dengan teman-teman kosku. Masak perbaikan gizi tak bagi-bagi, itu kata mereka.
Ketiga, tatakrama dan hal-hal berbau protokoler sangatlah sering membuat aku cengar-cengir. Intinya, semua serba “sepantasnya” dengan basa-basi yang berlebihan. Ibaratnya: tertawa tak boleh kelihatan giginya (kayak apa tuh), makan dan minum dengan gaya ulat bulu (maksudnya tertata dan hati-hati), dan bertepuk tangan dengan irama dan moment tertentu. Tentunya akan lebih maknyus kalau tepuk tangan itu duet maut dengan senyum mengembang. Hah dapat kau bayangkanlah…aku tak bermaksud “mengejek”, cuma sedikit bosan saja dengan hal-hal seperti itu. Pernah terlintas di pikiranku, kenapa seminar Kemenlu tak pernah dilakukan di angkringan atau tempat-tempat “me-rakyat” lain? Hahaha aku yakin sebelum mengatakannya, orang-orang yang berkepentingan pasti telah menggeleng-geleng dengan mengatakan “itu tak pantas, nanti dilihat negara lain…”



Pagi tadi, aku juga mengikuti seminar di suatu hotel bagus di Jogja. Hehe aku sudah sering ikut seminar kemenlu disana. Tapi yang ini beda karena aku duduk dengan anak-anak HI angkatan atas yang sangat sibuk membicarakan hal-hal remeh-temeh semacam asyiknya main tamaguci dan ngerumpi tentang orang-orang yang hadir di sana. Bahkan aku dapat komentar dari seorang teman yang duduk di sebelahku dengan mengatakan seminar itu tak lebih dari: ngadem, makan, dan pake baju bagus. Hahaha seandainya di angkringan, mungkin tertawaku akan menggelegar seperti letusan Krakatau (lebay tingkat tinggi). Yap itulah sisi lain dibalik seminar yang mahal (menurut temanku, seminar kemenlu di hotel macam tadi menghabiskan biaya kurang lebih Rp.60.000.000).



Kontras ketika aku berada di kampung Code dengan anak-anak Code yang apa adanya. Sepertinya, sedikit waktu yang aku habiskan dengan anak-anak Code lebih banyak memberiku pelajaran daripada seharian yang aku habiskan di Seminar. Terus terang aku lebih bangga berada di balai kampung Code itu daripada di hotel bintang lima dengan orang-orang penting dan pintar. Mungkin ini idealismeku saja, tapi itu yang memang aku rasakan saat ini. Aku bangga melihat adik-adik yang masih tertawa-tawa dengan lepasnya dibanding ketika melihat tawa di seminar yang dibuat-buat. Aku lebih bangga berada bersama anak-anak itu untuk belajar bersama daripada di seminar dengan diriku yang dodol yang malas mendengarkan dan cuma belajar makan enak. Hehe tapi aku sadar sepenuhnya, tak ada yang (totally) jelek dan bagus, semua adalah proses pembelajaranku. Karena hotel berbintang dan kampung code sebenarnya tak ada bedanya. Keduanya juga Indonesia, keduanya memberi pelajaran tentang banyak hal padaku walaupun dengan kadar yang berbeda jauh.

Aku tetap ingin pergi ke seminar untuk cengengesan dan pergi ke Code untuk tertawa lepas…

Rembang "BANGKIT"?

Sekitar enam tahun yang lalu ketika pertama kali saya memutuskan untuk tinggal selama tiga tahun di Rembang. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan mengenai Rembang adalah bau amis yang sangat menggemaskan di siang hari -terutama di sekitar pantura, tapi itu pula yang membuat saya senang ketika berkunjung ke rembang karena saya tak pernah menemukan hal yang sama ketika ada di daerah lain. Saya juga sering pergi ke taman kartini dan pasar Rembang yang tak pernah berubah penampakannya. Sering ketika pulang ke kampung halaman, saya melewati daerah-daerah yang masih ada dalam Kabupaten Rembang seperti Lasem, Pamotan, Sarang dll. Saya sering membayangkan pembangunan (development) yang dapat dilakukan di daerah-daerah itu dengan Sumber daya yang begitu melimpah. Come on, apa gunanya pantai dan laut dengan segala hasilnya, batik Lasem yang cantik itu, masyarakat Tionghoa dengan berbagai budaya dan ceritanya, kalian punya segalanya! Itu yang selalu ada di pikiran saya.



Entahlah, Rembang bagi saya telah menjadi kota kedua selain kota kelahiran saya yang ingin saya perjuangkan. Tapi saya selalu ragu, apakah saya akan sendiri melakukannya?

Sekitar sebulan yang lalu saya mampir ke Rembang. Hehe Rembang masih sama seperti dulu. Yang beda hanya beberapa bangunan yang semakin banyak berjejer di tanah yang dulunya sawah –jalan pantura Lasem menuju Rembang. Itu yang kelihatan. Saya sendiri tak tahu pasti apa yang telah berubah dari Rembang, apakah semakin maju atau sebaliknya. Dari status seorang kawan, saya tahu kalau akan ada pemilu bupati di sana dan itu terlihat jelas ketika saya melihat begitu banyak poster calon Bupati yang ditempel di sepanjang jalan. Rasanya ingin tertawa karena saya sebagai orang yang pernah mengecap manisnya Rembang, tak mengenal calon-calon itu. Layakkah mereka untuk saya serahi tanggung jawab untuk memajukan kehidupan masyarakat di Rembang, terutama masyarakat kecil yang tidak terlalu mengerti intrik-intrik politik orang yang lebih pintar?

Lalu terpikir oleh saya: apa yang dapat saya lakukan? Kadang saya merasa sebagai orang luar, orang yang hanya pernah tinggal di Rembang ketika saya SMA. Dan karenanya,saya sering bertanya, apakah kawan-kawan saya yang memang lahir dan menghabiskan sebagian hidup mereka di Rembang juga punya rasa belongness terhadap daerahnya? Disadari atau tidak, Saya yakin iya!



Tulisan saya ini hanya sedikit rasa kekhawatiran saya menjelang pemilu Bupati di Rembang. Saya rasa, kita telah cukup pintar untuk tak lagi abai terhadap apa yang terjadi di Rembang, apalagi menjelang Pemilu. Paling tidak, ketika saya bilang “saya perduli terhadap Rembang, maka saya akan membuktikannya dengan perbuatan, dan saya yakin, kita sudah cukup dewasa untuk tahu yang terbaik yang bisa kita lakukan”. Sudah sejak lama saya mendengar slogan “Rembang BANGKIT” menjadi kebanggaan masyarakat Rembang, saya ingin itu menjadi kenyataan dengan adanya moment pemilihan oleh rakyat terhadap pemimpinnya. Semoga…

Thursday, March 25, 2010

Tulisan pesanan "My Name Is Khan"


Sebenarnya ini note pesanan, haha. Ya seorang teman tadi siang berkata padaku: “pokoknya kamu harus nonton ‘my name is khan’ nung, lalu nulis note, tak tunggu lo.” Waduh, sudah mirip pemimpin redaksi majalah aja dia yang ngingetin deadline ke wartawannya. Aku sendiri sebenarnya tak pernah bisa menulis karena disuruh, aku selalu menulis karena aku ingin. Tapi untuknya, aku pun siang itu segera ke XXI untuk menonton My name is Khan dan saat ini mengetik note tak pentingku dengan sebungkus klepon disebelahku.

Seperti yang sudah-sudah, aku selalu nonton bioskop sendiri dan entah kenapa, aku selalu kebagian duduk disebelah sepasang kekasih. Bukan iri sih, tapi kepingin aja, hahaha. Baiklah, aku sebenarnya gak tahu apa yang diinginkan pemesan note-ku untuk aku tulis tentang film itu. Tapi satu fakta yang ingin aku katakan tentang film itu adalah: ketika keluar ruangan, aku melihat begitu banyak mata yang sembab dan hidung merah tanda habis menangis, hahaha. Dodolnya, itu juga terjadi padaku. Agaknya film itu memang cukup menguras air mata yang mengingatkanku pada film-film syah Rukh Khan sebelum-sebelumnya seperti Kabi kushi Kabi Gham dan Kuch Kuch Ho ta hai. Hahaha hafal ya aku. Ya iyalah, aku ini dulu penggemar beratnya Khan dan Kajol. Kalo lihat film mereka, mewekku bisa kenceng banget, sampai sesenggukan, apalagi kalau ingat adegan ketika kajol pergi naik kereta dan Khan mengejarnya di film Kuch Kuch Ho ta Hai, rasanya hopeless (lebayyy tingkat tinggi).

Ah sudahlah, film india memang selalu lebay tapi itu pula yang selalu sukses membuat perasaan penonton terombang-ambing lalu meneteskan air mata. Aku sendiri sebenarnya suka dengan film ‘My name is Khan’ terutama karena aku muslim. Film itu seperti menegaskan bahwa islam itu kompleks. Dan karenanya, untung-untungan bagimu apakah lihat jeleknya saja, atau bagusnya saja, sehingga pada akhirnya kamu akan dapat memutuskan apakah akan memusuhinya atau berdamai dengannya. Kebetulan, Khan adalah representasi dari islam yang “baik” dan si dokter provokator sebagai representasi islam “tak-baik” (penafsiranku dari film itu). Biasa film Hollywood selalu berkutat dengan protagonist dan antagonist, pahlawan dan penjahat.

Satu hal dari note ini adalah aku tak akan mendramatisir tentang diskriminasi ‘ke-muslim-an’ waktu itu atau memuja-muja Khan yang di film itu terlihat begitu “good”, tapi aku lebih suka melihat film ini dari sisi yang tak terlihat, yaitu “nilai”. Nilai tentang keadilan kepada sesama manusia atau bahkan kepada Tuhan. Menurutku, jangan dikira cuma Tuhan saja yang berlaku adil pada manusia, tapi manusia juga harus berlaku adil pada Tuhan. Apakah adil bagi Tuhan ketika umat-Nya mencemarkan nama baik agama-Nya sementara Dia tak pernah memastikannya sebagai hal yang mutlak dilakukan pada suatu waktu, jam, detik tertentu?

Terus terang, waktu melihat film ini, aku lebih banyak ter-sentil dengan hal-hal yang dialami oleh Khan. Dulu waktu kecil (kira-kira umur 5-6 tahun), aku adalah salah satu anak yang terancam dengan keberadaan orang seperti Khan, maaf, yang “berbeda” seperti itu. Dia adalah laki-laki yang sebenarnya masih saudara jauhku. Setiap aku berangkat sekolah TK dibonceng mbakku, dia akan mengejar dengan sepeda mini-nya dan aku akan berteriak menyuruh mbakku supaya lebih cepat mengayuh. Aku tak pernah berani ke rumahnya karena dia pasti akan bertingkah aneh. Setahuku waktu itu, dia adalah orang gila, begitu yang orang-orang katakan tentangnya. Hmm aku jadi berpikir,,,mungkin waktu itu dia kesepian, ya dia pasti kesepian karena tidak ada yang mau bermain dengannya, makanya dia mengejarku, karena mungkin, dia ingin bermain denganku dan ingin bersekolah sepertiku.

Saat menulis ini, aku baru sadar, itu pasti tak adil untuknya. Siapa sih yang mau diciptakan seperti itu? mungkin dia juga tak mau kan? Lalu punya hak apa aku “menolaknya”? namun seperti Khan setelah menemui Obama yang lalu tak “tertolak” lagi, saudara jauhku juga sekarang pasti tak tertolak lagi, karena dia telah tenang di persemayamannya…”Saudaraku aku ingin bermain denganmu, tapi aku tak ingin mati cepat, jadi main sendiri dulu ya…hehehe”

Sentilan lain adalah tentang kelapangan hati untuk sedikit saja meluangkan waktu bergaul dengan rasa benci. Rasanya ingin tertawa karena melihat kepolosan Khan yang didalam film itu punya kepribadian yang “jujur, pemurah, istiqomah, amanah” (dua kata terakhir mengingatkanku pada mata pelajaran aqidah akhlaq waktu MTS hahaha). Mbak Istiqomah dan Amanah itu kira-kira artinya “teguh pada pendirian” dan “dapat dipercaya/menepati janji”. Terpikir olehku: mungkinkah dia punya sifat seperti itu apabila dia orang “sehat dan normal” seperti kita-kita ini? Apakah dia akan begitu cepat memaafkan orang-orang yang “menolak dan menganiayanya” apabila dia seperti kita-kita ini? Hehe disinilah letak sentilan itu. Ternyata keegoisan seseorang yang sehat wal afiat ketika marah kepada sesama manusia lain atau bahkan Tuhan, dapat mengalahkan keinginan untuk berdamai dengan semuanya dan menghilangkan rasa dendam. Para muslim yang dengan cepat sakit hatinya karena dikompori oleh provokator, lalu orang-orang AS yang punya stereotip buruk pada orang muslim pasca 9/11, sangat kontras dengan “kelapangan hati” yang dimiliki oleh Khan, kenapa bisa begitu? Aku tak akan menjawab karena Khan “berbeda” dan orang lain sehat wal afiat, karena aku yakin, banyak orang yang sehat wal afiat yang punya kelapangan hati seperti halnya Khan. Lalu timbul pertanyaan: apakah aku diantara orang-orang yang punya kelapangan hati layaknya Khan? Bagaimana dengan anda? Hahaha sepertinya aku dan anda butuh meteran untuk mengukur lebar dan panjang hati kita, agar kita tahu berada luasnya (rumus matematikanya L=pxl kan ya?)

Adoooo sepertinya note ini akan panjang. Khan terlalu banyak memberi inspirasi yang sulit terungkapkan. Aku tak akan bilang “ayo kita sebagai muslim (dan tak hanya muslim) jadi kayak Khan yoook…” hehe aku merasa belum memiliki kapasitas seperti itu, karena ketika aku bilang begitu, aku punya konsekwensi untuk TELAH seperti itu padahal aku juga gak dapat memastikan semua yang dilakukan Khan benar. Tapi aku akan tetap menyederhanakan semuanya dan bilang: aku juga manusia layaknya Khan, aku yakin kami sama-sama dewasa untuk membedakan mana yang baik dan jahat. Ketika Khan (seperti) selalu memberi kesempatan pada hal baik, maka aku akan BERUSAHA untuk selalu memberi kesempatan pada hal yang baik itu pula. Apakah nanti jadinya jelek? Aku pasrahkan semuanya pada Tuhan. Gitu aja kok rempong.

Terus terang sulit menulis note ini karena film itu sarat dengan pesan moral dan sayangnya aku bukanlah orang yang tepat untuk menggembar-gemborkannya. intinya, Rekonsiliasi adalah kata yang tepat mewakili film itu. seperti si pembuat naskah ingin berkata “sudahlah, buat apa kita bertengkar karena perbedaan. Tak semua yang kamu anggap berbeda (secara ekstrem) denganmu itu jahat. Karena di dunia ini cuma ada yang jahat dan baik. Dan yang baik itu sebenarnya terlihat jelas, lalu kenapa kita tak memberi kesempatan pada yang baik?”

Tuesday, March 23, 2010

Cerita tentang Korupsi

Waktu itu pagi di suatu pasar di sebuah kecamatan kecil di Tuban, Jatim. Aku memarkirkan sepeda motorku di depan pasar yang dikelola oleh pihak berwenang di pasar itu. Seragam tukang parkirnya berwarna hijau mirip punya hansip lengkap dengan topi yang mengingatkanku pada topi KKN-ku. Jadi aku percayakan sepeda motorku di tangan bapak-bapak yang kalihatan “amanah” itu. Aku pun diberi karcis kecil lengkap dengan cap yang menandakan itu tempat parkir resmi. Setelah selesai belanja, aku pun menuju motorku, aku telah menyiapkan uang Rp.1000 untuk membayar parkir, namun aku urungkan karena ternyata di kertas hanya tertulis angka Rp.300. Aku pun hampir menyerahkan uang Rp.500 ketika bapak petugas parkir mengatakan aku harus bayar Rp.1000 karena aku manis (ehem), dan 1500 bagi orang jelek. Lalu aku nyolot.

“Di kertas ditulis Rp.300, kok bayarnya jadi Rp.1000 pak?” (telah aku artikan, bahasa sebenarnya bahasa kromo) Kataku dengan senyum mengejek

“Mbak kan bawa karcis yang tulisannya Rp.300, lalu karcis yang nempel di motor mbak kan juga Rp.300, jadinya Rp.600 to. Yang Rp.200 untuk beli rokok, Rp.200 untuk beli wedang (minuman)”

“berarti korupsi dong?”

“Ya nggak no, kan udah ngomong, korupsi kan ndak ngomong”

Tukang parkir lain, yang juga teman tukang parkir pertama ikut nimbrung. Aku menanyakan hal yang sama dan dia bilang gini.”sudah, jangan bilang siapa-siapa. Diikhlaskan saja, semoga sehat, blab la bla.”

Karena jengah dengan kelakuan mereka, aku pun tancap gas dan berlalu meninggalkan mereka yang masih ngoceh. Sampai rumah, aku bertanya pada bapakku. “pak, biasanya bapak bayar parkir di pasar berapa?” beliau menjawab:”Rp.500, kadang malah gak bayar soalnya mereka sudah kenal aku”
“aku tadi disuruh bayar Rp.1000”
“Kalo tahu anakku, pasti nggak ditarik Rp.1000, soalnya mereka sudah kenal aku”
Batinku:”waaa ini nepotisme namanya”

Itu sepenggal cerita bodoh yang aku alami di sebuah kota kecil di pelosok Tuban. Yang ingin aku katakan adalah:Korupsi ternyata telah mengakar dimana-mana, tak terkecuali di kota kecil yang jauh dari sorotan KPK, yang dilakukan aparat berwenang meskipun itu dalam jumlah yang kecil. Angka yang harusnya cuma 300, menjadi 1000, ckckck hampir 3 kali lipatnya! Bayangkan berapa keuntungan pegawai parkir itu. Aku yakin, dari pihak pengelola pasar (berarti pemerintah di kecamatan itu), mereka telah digaji. Tidak heran, para koruptor bisa korupsi buanyak berkali-kali lipat dari uang yang seharusnya menjadi haknya.

Waktu menulis ini, aku sebenarnya ingin sekali mencari cara untuk “melaporkan” perbuatan mereka ke pihak yang berwenang mengenai permasalahan perparkiran tadi, tapi di hatiku juga timbul keraguan: “yakin nung kamu mau melaporkan ini ke pihak yang berwenang? Kamu tahu dimana dan siapa? Kamu gak kasian sama dua petugas parkir itu yang pasti orang kecil?”

Hahahaha rasanya ingin tertawa karena dua hal: pertama, aku tahu perbuatan mereka curang. Namun aku memaksa diriku untuk tidak mau tahu karena merasa tidak berdaya dan tidak punya akses untuk melaporkan kedua bapak-bapak tadi. Kedua, apakah permasalahan kecil (korupsi 600) harus aku besar-besarkan? Kasihan mereka…

Itulah, menurutku, dua hal yang membuat korupsi terus mengakar bahkan di tempat, waktu, dan tokoh yang paling kecil sekalipun. Yap dua hal itu adalah: kita tak punya “sesuatu” yang siap untuk jadi pendengar dan rujukan ketika ada korupsi di sekitar kita, dan lalu dengan gagah berani mau meninjaklanjuti. Polisi? Aku, jujur saja, pesimis dengan mereka. Sayangnya KPK hanyalah sebuah tangan dewi keadilan yang hanya ada di ibu kota yang panjangnya tak menjangkau pelosok Tuban. Kedua: kita selalu berlagak jadi pemaaf dan membuat hal itu “umum” terjadi. Kita bahkan tak menganggapnya sesuatu kecurangan atau bahkan kejahatan. Jadi sikap permisif itulah yang terus saja membuat perbuatan curang itu beranak-pinak bahkan di lingkungan yang paling kecil sekalipun.

Jujur, ketika nyolot seperti tadi kepada dua bapak yang agak tua yang juga dua tukang parkir koruptor, aku tak merasa berdosa sama sekali. Meskipun mereka dua bapak-bapak yang mungkin miskin dan memang telah tua…Aku tak akan bilang yang aku lakukan tadi benar, itu terserah pendapat anda-anda yang membaca note ini.
Orang Indonesia itu terlalu pemaaf dan “sok baik”, makanya korupsi gak pernah mati, hehe.

Monday, March 8, 2010

Tak Berjudul

Suatu hari temanku bertanya ke aku. “Nung, kenapa sih kamu suka pergi-pergi sendiri?”

Aku jawab dengan polosnya.”Mmm karena ga ada yang mau pergi sama aku”
Hahahahahahaha dan kami pun tertawa seperti kesetanan.

Jauh di lubuk hatiku, aku juga bertanya hal yang sama. Iya ya, kenapa teman-temanku (mungkin) tak ada yang mau pergi sama aku ya?

Waktu itu aku menjawab ragu. “Teman-temanku sibuk semua hehehe”

Sementara aku yang sedang galau dengan pertanyaan yang sulit aku jawab itu, seorang temanku yang lain tengah galau pula dengan pertanyaan yang hampir sama, intinya dia mempertanyakan keeksistensian pertemannya dengan beberapa temannya. Dia merasa diabaikan dan diacuhkan. Tak lagi diajak bareng-bareng seperti dulu. Dia kadang mengeluh padaku, dan aku sebenarnya juga tak tahu harus menyikapinya bagaimana, karena aku –jujur saja, tak sedang merasa begitu meskipun aku sering sendiri menikmati susah dan bahagiaku.

Intinya aku ingin bilang: setelah merasa berkorban dan melakukan banyak hal kepada orang lain, mau tak mau, kadang kita ingin mendapat balasan dari orang itu, dengan sepantasnya. Berani taruhan, kamu juga sering merasa seperti itu kan!

Rasanya ingin tertawa lepas…sampai sekarang aku belum menemukan cara untuk membuat rasa itu lebih simple, sulit sekali! Suatu hari berbulan-bulan yang lalu, aku menulis di statusku yang intinya tak mau menolong “seseorang” lagi karena telah habis kesabaranku. Aku merasa selalu ada untuknya dan telah berkorban terlalu banyak, tapi ketika hidupku begitu sempit dan memohon untuk diberi sedikit saja belas kasihan, dia tak berkehendak. Rasanya waktu itu sakit sekali. Aku yakin seyakin-yakinnya, kamu pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Merasa telah melakukan banyak hal untuk orang lain, tapi orang itu tak membalas sepantasnya. Lalu apakah hidup pada akhirnya akan selalu dipenuhi dengan hal seperti itu?

Tadi sore, aku mendengarkan swaragama dan Si Taufik (penyiarnya) punya satu sesi yaitu “monster monday”. Kamu boleh mengajukan satu nama yang hari itu menjengkelkan kamu dan taufik akan mem-flush orang itu seperti –maaf, kotoran di WC. Kebetulan client Taufik melaporkan temannya yang hari itu nyebelin banget (menurut si client) karena tak mau meminjami buku padahal biasanya client ini selalu meminjami si korban bukunya. Lalu Taufik bilang sebelum mem-flush si korban: “ini hukuman untuk orang yang tak bisa menghargai kebaikan orang lain (itu seingatku).” Dan grojog grojok, disiramlah itu si korban (meskipun cuma lewat telpon), hahaha. Tak aku sangkal, aku ikut puas mendengar itu.

Lalu aku pun bertanya dalam hati: apakah aku tak cukup menghargai kebaikan orang lain ya sehingga setiap aku butuh orang lain, mereka serasa lenyap? Sringggggg. Btw, Aku sedang tersenyum kecut sekarang.

Tapi aku selalu dapat hikmah dari semua hal yang mungkin menurut orang itu sial. Yap!? Aku selalu membuatnya simple dengan bilang pada diriku sendiri: Kamu bisa kok nung sendiri, itu akan membuatmu lebih kuat!? Maka ketika kamu telah merasa sedikit kuat, berikanlah kekuatanmu itu untuk orang yang memintanya, agar hidup itu tak hanya meminta saja. Hahahaha aku merasa sok bijaksana sekali hari ini.
Yayaya ini mungkin sejenis pelipur lara,,,tapi satu hal yang ingin aku katakan, sekali kita menuntut dan diberi/dilayani, maka kita akan terus menuntut. Apa akibatnya? Kita tak akan siap ketika suatu hari kita harus menghadapi sendiri, ketika tak ada orang yang siap melayani, ketika semua pergi. Lalu apa kita hanya akan mengeluh dan menyalahkan orang lain?? Ah sudahlah,,,selalu ada alternatif untuk membuat hidup ini berwarna, untuk membuat hidup berjalan dengan penuh sureprize tanpa harus selalu dipermudah oleh orang lain.

Dan malam setelah aku ditanya temanku diatas, dalam pejaman mata, aku berpikir. Dengan mereka jadi temanku saja, aku telah senang. Aku tak perduli mereka membalas yang telah aku lakukan pada mereka atau tidak, dan aku juga tak perduli mereka selalu ada ketika aku butuh atau tidak. Karena aku yakin, apa yang aku jalani sekarang itu membuatku lebih kuat. Seperti yang pernah aku bilang dalam note-ku tentang “Abee bukan bapakku”, ketika kita harus menjalani semua sendiri, itu akan membuat kita lebih kuat. Hehe aku akan selalu berterimakasih pada teman-temanku meskipun tak selalu ada untukku. Karena berteman bagiku tak hanya kalimat “teman ada ketika aku butuh” tapi juga “tak ada” ketika aku butuh karena aku yakin, proses itu akan membuatku lebih kuat.

Aku akan berusaha ada untuk kalian…dan aku tak mengharapkan apa-apa dari kalian, karena aku ingin menjadi kuat karena dan untuk kalian…hehehe

Monday, February 22, 2010

Menjadi Indonesia

Aku menulis ini menjelang magrib setelah membaca buku “Sejuta hati untuk Gus Dur” dan mendengarkan pandji yang sedang diwawancara di Swaragama. Kalau kamu belum tahu pandji yang mana, itu lho, pandji si presenter “kena deh!?” di TV7 yang lalu dipindah ke ANTV. Sekarang dia nyanyi. Aku kira, dia cuma sedang ikut-ikutan artis lain yang berbondong-bondong jadi penyanyi cinta. Tapi ternyata anggapanku salah! dia tidak sekedar nyanyi, dia menawarkan sesuatu yang lain, sesuatu itu adalah “hati” untuk indonesia. Yah dia mencampur lagu rap dan suara pas-pasannya dengan bumbu yang special. Lebih “meaning” dibandingkan lagu-lagu apapun yang pernah aku dengar. Yaitu seruan untuk sepenuhnya MENJADI INDONESIA. Lalu kenapa itu penting? Hah aku tak tahu harus mulai dari mana, tapi aku akan menceritakan sesuatu kawan, ceritaku…Ini sama sekali bukan bermaksud sombong, aku takut kau salah paham,,,

Waktu itu sore di bulan September, seseorang meng-sms aku yang ternyata adalah Marianus Kleden, dia berkata “Saya sedang membaca essay anda mbak Ainur, sangat cerdas dan NASIONALIS…” seterusnya dia bicara tentang pemecahan masalah essayku yang aku ikutkan dalam lomba menulis essay Tempo “menjadi Indonesia”. Aku tersentak, terutama dengan bunyi nasionalis yang aku cetak dengan huruf kapital diatas. Apakah memang nasionalis? Aku mengernyit dan menganggapnya lucu karena sebenarnya aku tak merasa seperti itu. Dan saat pemenang diumumkan, aku tambah kaget. Aku dapat nomer dua dan sama sekali tak merasakan hawa “wahhh”, karena aku hanya menulis saja. Hey!mungkin saja aku tak pantas menerima itu!? Dan mau tak mau, kemenangan itu sebenarnya membuatku berpikir. Yah aku berpikir lama setelahnya dan kadang membaca essayku lagi. Sebenarnya, aku tak se-nasionalis itu…mungkin masih banyak anak lain yang mengirim essay-nya dan lebih mencintai indonesia dibanding aku. Aku tak tahu, mungkin ketika menulis itu, aku kemasukan arwah pejuang sehingga jiwanya tercurah di tulisanku. Dan dari kemenangan itulah aku mulai belajar tentang sesuatu yang sebenarnya telah aku pelajari sejak lama lewat pelajaran atau kuliah yang berbau ke-pancasila-an, namun tak pernah aku resapi,,,yaitu menjadi Indonesia.

Aku tak akan bilang ini pelajaran, tapi aku akan bilang ini dengan “pengalaman”.


Pengalaman pertama adalah bertemu dengan 20 besar “Menjadi Indonesia”. Mereka adalah Mas Arif, Mas Firdos, Fathan, Made, Fakhri, Ayos, Rona, Prima, Mas Islah, Dea, Jati, Veri, Goklas, Nur Cholis, dan sidiq. “Orisinal”. Aku pikir itu kata yang paling menggambarkan mereka. Yup mereka memaknai Indonesia dengan cara mereka sendiri. Anak-anak yang “jadi mereka sendiri”. Aku tak melihat anak yang sok gaul dan berbicara dengan campuran bahasa inggris atau yang sok bicara berat dengan kata-kata yang sulit ku pahami (yang sering aku temui). Aku melihat orang-orang yang apa adanya, yang ingin melakukan sesuatu bagi negaranya, Indonesia. Ketika di Ismail Marzuki untuk acara penutupan setelah 5 hari kemah, aku begitu bangga berdiri diantara mereka. Bukan karena kami 20 besar, tapi karena aku diantara anak-anak yang mungkin lebih banyak berbuat sesuatu untuk Indonesia daripada aku yang tak pernah berkarya untuk Indonesia/banyak orang. Aku menemukan pengalaman yang tidak dapat terdeskripsikan. Dan dari sana, aku semakin penasaran,,,aku memantapkan niat untuk terus mencari “menjadi Indonesia”

Bulan Nopember kalau tak salah, aku presentasi essay di Universitas Sanata Dharma. Kau tahu kan ini universitas Kristen. Dan waktu itu, mungkin aku adalah satu-satunya orang muslim di ruangan yang penuh dengan orang kristen. Dengan jilbabku aku maju ke depan, mencoba tenang walaupun hatiku tak bisa berbohong bahwa “menjadi minoritas itu bikin was-was” hehehe. Yah aku seperti ada di tempat asing yang jauh dari hidupku biasanya. Dan diantara sekian banyak orang, tak ada yang ku kenal, aku sendirian. Tak ada pendamping yang menguatkanku seperti pendamping finalis yang lain. Tapi hatiku tenang karena seorang romo memberi sambutan dengan kata-katanya yang meneduhkan:“siapapun anda, anda punya hak yang sama”.

Dan Alhamdulillah keberuntungan ada di pihakku, akupun disuruh memberi sepatah dua patah kata. Aku tak berkata banyak waktu itu, semuanya mengalir karena aku tak diberi waktu untuk berpikir. Yang ku ingat waktu itu aku berkata “ketika datang tadi, saya merasa asing. Terima kasih telah memberi saya kesempatan berdiri di sini. Saya beruntung, bukan karena berdiri sebagai pemenang, tapi karena saya telah memperoleh kawan-kawan dan keluarga baru…” Itulah pengalaman kedua. Ketika ada dalam keadaan minoritas, aku semakin merasa berada di Indonesia. Yang begitu beragam dengan agama, suku, bahasa dll. Ternyata keberagaman itu indah ya,,,dan pesan mereka ketika aku akan pergi “berkunjunglah kapan saja, tangan kami selalu terbuka…”aku tersenyum…


Dan mungkin pengalaman ketiga adalah hari ini, 20 feb 2010. Aku menghabiskan buku “sejuta hati untuk Gus Dur” kurang dari dua hari karena begitu indah ceritanya. Aku menemukan orang yang begitu mencintai Indonesia. Tahukah kau, sewaktu kecil, aku bisa dikatakan dekat dengan dunia pesantren karena dibelakang rumahku berdiri pesantren. Dan ketika agak besar, aku mulai bosan dengan dunia pesantren karena aku banyak melihat ketidakteraturan dan para Kyai-nya yang tak “murni” lagi. Kebanyakan mereka ikut politik praktis atau berpartai, sehingga ke-kyai-an mereka secara pribadi aku ragukan. Iya kalau niatnya untuk perjuangan dan membawa kebaikan untuk semuanya, tapi bukan, terlihat sekali kalau mereka bersaing demi uang atau kekuasaan. Paling tidak itu yang terjadi di sekitarku yang berhasil aku temui. Tapi tadi setelah aku membaca itu, aku sadar bahwa tak semua Kyai begitu. Bahwa dunia yang dulu dekat denganku yaitu pesantren, sebenarnya tak pernah aku tinggalkan, karena banyak essay dan tulisanku yang bercerita tentang pasantren dan dunia seputarnya. Pesantren yang kadang aku “tak begitu suka” itu, disaat yang sama juga aku sayang dan ingin aku perjuangkan. Bahwa pesantren juga tak pernah terpisah dengan Indonesia,,,pesantren berjuang untuk Indonesia…Lalu kenapa aku harus memilih diantara keduanya?


Dan sebelum maghrib tadi, aku tak sengaja mendengar pandji diwawancara di radio swaragama. Aku baru mendengar lagu-lagunya dan tercengang. Mau tak mau, semangat itu datang lagi. Semangat untuk “menjadi Indonesia”. Negara ini pantas diperjuangkan, itu yang aku tangkap dari lagu-lagunya. Dan sebagai generasi muda, aku tak akan lagi menertawakan Indonesia yang memang penuh dengan ketidaksempurnaan, tapi dibalik ketidaksempurnaan itu masih banyak yang dapat dicintai dari Indonesia. Meaning yang sekali lagi membuatku “terpanggil” untuk melakukan sesuatu. Aku sarankan, dengarkanlah lagu-lagunya, walaupun secara kwalitas suara, dia tak bagus-bagus amat.

Aku akan menutup tulisan ini dengan satu bait lagu pandji feat Tompi:”Ini lagu, bukan lagu rindu. Ini lagu untuk membuka pikirmu. Kalau negeri ini bukan negeri babu, ayo anak negeri mana karyamu,,,”

Tunggu apa lagi, mari “menjadi Indonesia” sepenuhnya, Kawan!?

Wednesday, February 10, 2010

Tentang Coklat Panas

Entah kenapa aku merasa perlu untuk menjelaskan tentang blog ini. Well, kenapa aku perlu membuat blog yang berisi cerita-cerita membosankan (hahaha) yang kebanyakan berbau pribadi? ‘Emang siapa sih lo? Bukan artis, pejabat, lo cuma nanung. Ga penting banget sih,,,’ Hmm kadang aku juga bingung sendiri kenapa aku begitu bersemangat menceritakan banyak hal dan sekali lagi itu kebanyakan kehidupan pribadiku, dimana aku benar-benar terlibat didalamnya. Karena sebenarnya aku tipe orang dibalik layar.

Jawabannya simple. Sama sekali bukan narsis atau sok merasa penting, tapi aku ingin berbagi tentang cerita-cerita yang siapa tahu dapat menginspirasimu. Aha apakah itu muluk-muluk? Ketika aku bercerita tentang keluargaku, aku harap engkau juga akan merasakan kehadiran keluargamu yang berharga itu dan tak sungkan mengungkapkan rasa bangga dan cintamu pada mereka. Ketika aku bercerita tentang pengalaman-pengalaman lucu, aku ingin membuatmu tertawa dan sudahlah, walau kadang sedih, mari kita tertawakan saja. Bukankah setiap orang punya sisi konyolnya sendiri? Haha. Lalu ketika aku bercerita tentang kisah-kisah kawanku, aku ingin mengatakan bahwa hidup kita begitu kaya karena ada banyak cerita yang harusnya membuat kita berpikir dan lebih dewasa. Yah semua membuat kita lebih dewasa kawan. Pengalaman-pengalaman, masa lalu, dan lingkungan sekitar. Aku ingin kau kadang mengingatnya dan mengemasnya kembali menjadi mindset yang lebih baik. Bahwa semua adalah proses pembelajaran. That’s great hah? Itulah yang aku maksud dengan “menertawakan hidup”.

Menertawakan hidup itu tak sekedar tertawa karena itu konyol, tapi tertawa karena kita ingin membuat hal yang tak damai menjadi simple dan tertebak, lalu menjadi lebih damai untuk kita sendiri dan orang lain. Singkatnya, mentransformasikan elemen-elemen negative menuju positif dengan berpikir positif dan rasional. Okey! Yeah I got it!? Apa itu tadi maksudnya. Never mind. Dan sebenarnya semangat menertawakan hidup itu bukanlah ciptaan Abu Nawas. Hehe aku cuma sotoy saja kalau dia punya semangat itu. aku hanya mengaguminya saja dan aku pikir, tokoh yang humoris dan cerdas macam beliau layak ditiru,,,hehehe.

Ow ya, kenapa aku kebanyakan menceritakan cerita nyata baik itu dari diriku sendiri, teman, lingkungan sekitar, dan bukan artis, tokoh sejarah atau orang-orang besar yang semua tak aku kenal. Karena aku nanung, adalah orang yang tak mau menebak-nebak. Ketika aku mengatakan sesuatu, aku ingin itu jujur dan karena aku terlibat di dalamnya. Tak hanya mengira-ngira. Misal aku bercerita tentang Pak Soeharto buanyak sekali, tapi aku tak begitu mengenalnya. Sebenarnya sah-sah saja sih, tapi aku merasa, aku tak ingin merugikannya atau menguntungkannya dengan ke-sotoy-anku, dengan sedikit pengetahuanku tentangnya yang aku dapat dari cerita-cerita dan buku. Yap aku hanya akan banyak cerita ketika aku terlibat banyak dengan objek itu, dan merasakan hawanya secara langsung. That’s why, tulisan-tulisan di blog ini akan terasa sangat pribadi. Dan kadang aku curcol atau bahkan ngegosip, tapi itu tetap dengan perspektifku, hahaha

Dan,,,kenapa coklat panas? Penjelasannya diatas noh. Coklat itu dalam bentuk kemasan yang disedu dengan air panas. Sebenarnya agak mahal juga sih, tapi terpaksa, karena sepertinya aku telah ketagihan. Dan dialah yang membuatku tak kesepian ketika menulis apapun. Aku suka Coklat Panas!? Oke selamat membaca tulisan-tulisan tak pentingku. Aku siap mendengar kisahmu atau apapun itu jika kau ingin bercerita denganku. Kau tahu dimana bisa menghubungiku. Siapa tahu saja, itu dapat menginspirasi (ah bahasanya berat banget), ulang, siapa tahu dapat membuat diriku yang bodoh ini menjadi lebih dewasa dan bahagia. Dan kawan-kawan semua tentunya. Jangan khawatir, aku tak akan menceritakannya kepada orang lain ketika aku merasa kau tak mengizinkannya. Dan kau tentu boleh menulis di blog bodohku ini. hehe

Semangat untuk mulai menertawakan hidup kawan!?